PAPER
KEY SUCCES FACTORS KINERJA DENGAN VALUE FOR MONEY METHOD DI YOGYAKARTA
KEY SUCCES FACTORS KINERJA DENGAN VALUE FOR MONEY METHOD DI YOGYAKARTA

Oleh :
M. Fathurahman I 20140420xxx
R. Putut H 20150420256
Achmad Machbub H 20150420312
Heru Tri N 20150420322
PROGRAM STUDI
AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
DAN BISNIS
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2018/2019
Segala
puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan
salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat
limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan
tugas paper ini guna memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Manajemen
Pemerintah Daerah desen Dr. Bambang Jatmiko, M.Si.
Dalam
penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain
berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan banyak pihak, sehingga kendala-kendala
yang penulis hadapi teratasi.
Makalah
ini disusun agar pembaca dapat mengetahui kinerja pemerintah daerah Yogyakarta
dengan metode value for money yang
kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi,
dan berita.Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan.Baik
itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar.Namun dengan
penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.
Semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan
pemikiran kepada pembaca khususnya bagi penelitian selanjutnya.
Kami
sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk
itu, kepada dosen pembimbing saya meminta
masukannya demi perbaikan pembuatan paper kami
di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan
saran dari para pembaca.
Yogyakarta,
21 April 2018
Penyusun
Daftar Isi
Kata
Pengantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . 1
Daftar
Isi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
Latar Belakang . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
Tinjauan Pustaka . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
Analisis dan Pembahasan . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
Kesimpulan
dan Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . 12
Daftar
Pustaka. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . 13
Abstract
The
performance of village government is very important is very important to be
studied in public sector organizations including government. Since the
implementation of village-based budgeting, the performance of the government is
required to produce maximum performance. Increasing public accountability
demands by public organizations from local government, performance units,
organizational commitment, and performance satisfaction of village governments
are expected to make the village government's performance more maximal so that
public accountability is met. The purpose of this study is to determine what
factors affect the performance of value for money in Daerah Istimewa Yogyakarta
in 2016. The results of performance reports of the Regional Personnel Agency of
Yogyakarta in 2016 can be summarized as follows:
From the analysis of the objectives, there is one
key performance indicator selected as a benchmark. By 2016, the main
performance indicators of the Regional Personnel Board of Yogyakarta have
reached 95.70% of the total indicator of 78.57%. The lack of achievement of the
target is caused by various constraints factors, both internal and external of
the Regional Personnel Board of Yogyakarta, the biggest and inevitable obstacle
is the moratorium on employee recruitment from the central government.
Abstrak
Kinerja
pemerintah desa sangatlah penting sangat penting dikaji dalam organisasi sector
public termasuk pemerintahan.Sejak diterapkan penganggaran berbasis desa,
kinerja pemerintah dituntut untuk mampu menghasilkan kinerja yang maksimal.
Meningkatnya tuntutan akuntabilitas publik oleh organisasi publik dari
pemerintah daerah, unit kinerja, komitmen organisasi, dan kepuasan kinerja
pemerintah desa diharapkan mampu
menjadikan kinerja pemerintah desa mampu lebih maksimal sehingga akuntablitas
publik terpenuhi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor apa saja yang
mempengaruhi kinerja value for money di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2016. Hasil laporan kinerja Badan
Kepegawaian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2016 dapat disimpulkan
sebagai berikut:
Dari
analisis terhadap sasaran, terdapat satu indikator kinerja utama yang dipilih
sebagai tolak ukur. Pada tahun 2016, indikator kinerja utama Badan Kepegawaian
Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta telah dapat mencapai target sebesar 95,70%
dari total indikator yaitu sebesar 78,57%. Tidak tercapainya target disebabkan
oleh berbagai faktor kendala, baik dari dalam internal maupun eksternal Badan
Kepegawaian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, kendala yang paling besar dan
tidak dapat dihindarkan adalah adanya moratorium penerimaan pegawai dari
pemerintah pusat.
Latat Belakang Masalah
Perkembangan
pembangunan di Indonesia saat ini sangat cepat dikarenakan Indonesia adalah
negara yang sedang berkembang dengan pesat. Upaya pemerintah dilakukan
berdasarkan pola umum pembangunan jangka panjang yang telah mencapai kemajuan
yang cukup memuaskan, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan yang dilaksanakan secara menyeluruh dan berkesinambungan tentunya
memerlukan dana yang cukup besar, yang selanjutnya dialokasikan pada berbagai
bidang perekonomian yang bertujuan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang
baik di Indonesia. Oleh karena itu, perlu sekali pengelolaan keuangan Negara
maupun daerah di dalam organisasi sektor publik yang tepat agar mencapai
sasaran yang diinginkan dengan disertai perhatian pada segi-segi efisien dan
efektif.
Di dalam UU RI No. 28 Tahun 1999 tentang
penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari KKN Pasal 1 (6) yaitu Asas
umum pemerintah yang Asas Umum Pemerintahan Negara yang Baik adalah asas yang
menjunjung tinggi norma kesusilaan, kepatutan, dan norma hukum, untuk
mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan
nepotisme.
Dalam Pasal 3 UU RI No. 28 Tahun 1999
Poin 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 di jelaskan tentang asas umum penyelenggaraan
negara yaitu sebagai berikut :
1.
Asas Kepastian Hukum adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan
peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan
Penyelenggara Negara. Maksudnya asai ini menhendaki dihormatinya hak yang telah
diperoleh seseorang berdasarkan suatu keputusan badan atau pejabat administrasi
negara.
2.
Asas Tertib Penyelenggaraan Negara adalah asas yang menjadi landasan
keteraturan, keseraslan, dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara
Negara.
3.
Asas Kepentingan Umum adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan
cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif. Maksudnya asas ini menghendaki
pemerintah harus mengutamakan kepentingan umum terlebih dahulu.
4.
Asas Keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk
memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskrirninatif tentang
penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi
pribadi, golongan, dan rahasia negara.
5. Asas Proporsionalitas adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara.
5. Asas Proporsionalitas adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara.
6.
Asas Profesionalitas adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan
kode etik dan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.
7.
Asas Akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil
akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan
kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam
melakukan pungukuran/penilaian kinerja mulai dari tahap perencanaan sampai pada
tahap pelaksanaan terdapat beberapa cara, namun salah satu cara yang dapat
dipertimbangkan adalah dengan menggunakan konsep pengukuran value for money.
Yang merupakan salah satu prinsip terpenting dari good governance.
Sektor
publik sering dinilai sebagai sarang inefisiensi, pemborosan, sumber kebocoran
dana, dan instusi yang selalu merugi. Tuntutan baru muncul agar organisasi
sektor publik memperhatikan value for money dalam menjalankan
aktivitasnya. Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi
sector publik yang mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu: ekonomi,
efisiensi, dan efektivitas (Mardiasmo, 2002:4). Prinsip transparansi,
akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat mempunyai pengaruh terhadap kinerja
pemda namun tidak signifikan atau dapat dikatakan tidak berpengaruh terhadap
kinerja pemda.Sedangkan keadilan dan
responsibilitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pemda.( HY Lestiawan & B Jatmiko, 2015)
Menurut
Anggadini (2012) salah satu upaya yang harus dilakukan yaitu dengan
diterapkannya value for money dalam menjalankan aktivitas pada pelayanan
publik. Pemerintah daerah harus selalu memperhatikan setiap sen/rupiah (uang)
yang diperoleh dan dipergunakan. Ekonomi berkaitan dengan pemilihan dan
penggunaan sumber daya dalam jumlah dan kualitas tertentu pada harga yang
paling murah. Efisiensi berarti penggunaan dana masyarakat (public money)
tersebut dapat menghasilkan output yang maksimal (berdaya guna). Efektivitas
berarti penggunaan anggaran tersebut yang harus mencapai target-target yang
bertujuan untuk kepentingan publik.
Hal
ini sesuai dengan penelitian Anggadini (2012) yang menyatakan bahwa value
for money memiliki peranan penting dalam terwujudnya kualitas pelayanan
publik, apabila value for money dapat diterapkan dengan baik maka
kualitas pelayanan publik dapat terwujud seiring dengan perkembangan value
for money itu sendiri, dan begitupun sebaliknya apabila value for money tidak
diterapkan dengan baik maka kualitas pelayanan publik pun tidak akan maksimal.
Untuk
itu, sebuah organisasi yang berfokus pada pelayanan publik harus berusaha untuk
memperbaiki kinerja serta dengan pengukuran kinerja yang lebih lengkap untuk
mengetahui pencapaian visi dan misi yang telah dibuat. Dengan demikian, dalam
meningkatkan kinerja dan akuntabilitas sektor publik diharapkan dapat
menunjukkan kemampuan kinerja yang lebih baik. Menurut Suryo Pratolo (2003)
untuk organisasi sektor publik dalam hal ini adalah pemerintah daerah
memerlukan audit yang dapat mengungkapkan sejauh mana ekonomi, efisiensi, dan
efektivitas pelayanan yang diberikan kepada publik, karena keberhasilan
organisasi sektor publik ditunjukkan dengan keberhasilan pelayanan publiknya
dalam konteks ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.
Rumusan
masalah yang akan diteliti adalah faktor apa saja yang mempengaruhivalue for
money dalam menilai kinerja pelayanan sektor public di wilayah Yogyakarta.
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui penerapan konsep value for money dalam menilai kinerja
pelayanan sektor publik.
Tinjauan Pustaka
Pengukuran Kinerja
Robertson (dalam
Mahsun, 2006:25) pengukuran kinerja (performance measurement) adalah
suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang
telah ditentukan sebelumnya, termasuk informasi atas: efisien penggunaan sumber
daya dalam menghasilkan barang dan jasa; kualitas barang dan jasa (seberapa
baik barang dan jasa diserahkan kepada pelanggan dan sampai seberapa jauh
pelanggan terpuaskan); hasil kegiatan dibandingkan dengan maksud yang diinginkan;
dan efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan. Berikut manfaat pengukuran
kinerja organisasi sektor publik (Mahsun, 2011:149-150):
1.
Memastikan pemahaman para pelaksana dan ukuran yang digunakan untuk mencapai
kinerja.
2. Memastikan tercapainya rencana
kinerja yang disepakati.
3. Memonitor dan mengevaluasi
pelaksanaan kinerja dan membandingkannya dengan rencana kerja serta melakukan
tindakan untuk memperbaiki kinerja.
4. Memberikan penghargaan dan hukuman
yang objektif atas kinerja yang dicapai setelah dibandingkan dengan sistem
pengukuran kinerja yang telah disepakati.
5. Menjadikan alat komunikasi antara
bawahan dan pimpinan dalam upaya memperbaiki kinerja organisasi.
6. Mengindentifikasi apakah kepuasaan
pelanggan sudah terpenuhi.
7. Membantu memahami proses kegiatan
instansi pemerintah.
8. Memastikan bahwa pengambilan
keputusan dilakukan secara objektif.
9. Menunjukkan peningkatan yang perlu
dilakukan.
10. Mengungkapkan masalah yang terjadi.
Value for Money
Mahmudi
(2013:83) mengemukakan bahwa pengukuran kinerja value for money adalah
pengukuran kinerja untuk mengukur ekonomi, efisiensi, dan efektivitas suatu
kegiatan, program, dan organisasi. Pengukuran kinerja value for money memberikan
informasi yang dapat membentuk fungsi-fungsi pengendalian serta mendorong
tanggungjawab manajer dalam melaksanakan fungsi akuntabilitas. Oleh karena itu,
value for money dapat membantu pihak manajemen dalam melakukan
pengambilan keputusan yang lebih baik. Indikator kinerja harus dapat memberikan
manfaat kepada pihak internal yaitu berperan untuk menunjukkan, memberikan
indikasi atau memfokuskan perhatian pada bidang yang relevan dilakukan tindakan
perbaikan maupun kepada pihak eksternal yaitu mengontrol dan sekaligus
memberikan informasi dalam rangka mengukur tingkat akuntabilitas publik.
Sedangkan
Mardiasmo (2009:4) value for money merupakan konsep pengelolaan
organisasi sektor publik yang mendasarkan pada 3 (tiga) elemen utama yaitu:
ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.
1.
Ekonomi
Perbandingan input
dengan input value yang dinyatakan dalam satuan moneter. Ekonomi
menggambarkan hubungan antara harga pasar dan masukan atau dengan kata lain
ekonomi merupakan pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas
tertentu pada harga yang terendah. Dimana input dalam hal ini merupakan
sumber daya yang digunakan untuk pelaksanaan suatu kebijakan, program, dan
aktivitas.
Ekonomi = 
Mahsun
(2006:179) rasio ekonomi adalah mengukur tingkat kehematan dari
pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan organisasi sektor publik, dimana
pengukuran tersebut memerlukan data anggaran dan realisasinya. Dalam hal ini
ekonomi merupakan ukuran relatif, berbagai pertanyaan yang perlu diperhatikan
dalam pengukuran ekonomi, antara lain ;
a)
Apakah biaya organisasi lebih besar dari yang telah dianggarkan oleh
organisasi;
b) Apakah biaya organisasi lebih besar
daripada biaya organisasi sejenis yang dapat diperbandingkan; dan
c)
Apakah organisasi telah menggunakan sumber daya finansial secara maksimal
Tiga pertanyaan ini dapat dikatakan
sebagai pertanyaan mendasar, dan selanjutnya masih dapat dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan informasi yang dibutuhkan dalam rangka mengetahui tingkat
ekonomisnya.
2.
Efisiensi
Efisiensi
merupakan perbandingan output/input. Pencapaian output yang
maksimum dengan input tertentu atau penggunaan input terendah
untuk mencapai output tertentu. Dimana output dalam hal ini
merupakan hasil yang dicapai dari suatu program, aktivitas, dan kebijakan.
Pengukuran kinerja value for money, efisiensi dapat dibagi menjadi 2
(dua) yaitu:
a) Efisiensi alokasi yaitu terkait
dengan kemampuan untuk mendayagunakan sumber daya input pada tingkat kapasitas
optimal.
b)
Efisiensi teknis atau manajerial yaitu terkait dengan kemampuan mendayagunakan
sumber
daya input pada tingkat output tertentu.
Efisien = 
Halim (2008:164)
rasio efisien adalah menggambarkan perbandingan besarnya biaya yang dikeluarkan
untuk memungut pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima.
3.
Efektivitas
Efektivitas
merupakan ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya. Dengan
kata lain efektivitas merupakan perbandingan antara outcome dengan output.
Yang dimaksud outcome dalam hal ini adalah dampak yang ditimbulkan dari
suatu aktivitas tertentu.
Efektivitas = 
Halim (2008:234)
rasio efektivitas adalah menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam
merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target yang
ditetapkan.
Analisis Dan
Pembahasan
No.
|
Interval
Nilai Realisasi
|
Kriteria Penilaian
Realisasi
|
Kode
|
Kinerja
|
Kinerja
|
||
1.
|
91 ≤ 100
|
Sangat Baik
|
Hijau Tua
|
2.
|
76 ≤ 90
|
Tinggi
|
Hijau Muda
|
3.
|
66 ≤ 75
|
Sedang
|
Kuning Tua
|
4.
|
51 ≤ 65
|
Rendah
|
Kuning Muda
|
5.
|
≤ 50
|
Sangat Rendah
|
Merah
|
❖
Berdasarkan Permendagri Nomor 54 Tahun 2010
Pengukuran
target kinerja dari sasaran strategis yang telah ditetapkan oleh Badan
Kepegawaian Daerah dilakukan dengan membandingkan antara target kinerja dengan
realisasi kinerja. Indikator kinerja sebagai ukuran keberhasilan dari tujuan
dan sasaran strategis Badan Kepegawaian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta
beserta target dan capaian realisasinya dirinci sebagai berikut:
Penilaian
Berdasarkan Value for Money
1.
Penilaian
Kinerja Ekonomi
Penilaian
Kinerja Ekonomi dapat dilihat sebagai berikut :
Ekonomi 
Sumber: Laporan
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Dinas Pendapatan dan Pengelolaan
Keuangan Kota
Yogyakarta (diolah)
2.
Penilaian
Kinerja Efesiensi
Berikut
pengukuran kinerja kegiatan
Capaian Kinerja Tahun 2016
No
|
SASARAN
|
INDIKATOR
|
PERSENTA
|
KRITE
|
|||||||||||||||||||
KINERJA
|
SATUAN
|
TARGET
|
REALISASI
|
RIA/
|
|||||||||||||||||||
STRATEGIS
|
SE
|
||||||||||||||||||||||
KODE
|
|||||||||||||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
||||||||||||||||
1.
|
Meningkatnya
|
Persentase
|
Persen
|
78,58
|
75,19
|
95,69
|
Hijau
|
||||||||||||||||
Kualitas
|
kualitas
|
Tua
|
|||||||||||||||||||||
manajemen
|
manajemen
|
||||||||||||||||||||||
sumberdaya
|
|||||||||||||||||||||||
sumberdaya
|
|||||||||||||||||||||||
aparatur
|
|||||||||||||||||||||||
aparatur
|
|||||||||||||||||||||||
Dari
tabel di atas, terdapat satu indikator kinerja utama yang terbagi ke dalam satu
sasaran strategis. Pada tahun 2016, indikator kinerja memiliki capaian sebesar
75,19% atau sebesar 95,70% dari target yang ditetapkan sebesar 78,57%.
Sumber: Laporan
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Dinas Pendapatan dan Pengelolaan
Keuangan Kota
Yogyakarta (diolah)
Capaian=
Pencapaian indikator
kerja 95,69
3.
Penilaian
Kinerja Efektifitas
Dapat
dilihat dari anggaran apbddaerah.
Anggaran*
|
|||||||||||||||||
No
|
Program
|
Keterangan
|
|||||||||||||||
Target
|
Realisasi
|
%
|
|||||||||||||||
Deviasi
|
|||||||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
||||||||||||
1.
|
Program
|
7.547.315.000
|
6.358.119.741
|
15.76
|
- Adanya kebijakan
|
||||||||||||
Pembinaan dan
|
efisiensi dan
|
||||||||||||||||
Pengembangan
|
Pembintangan
|
||||||||||||||||
Aparatur
|
Mempengaruhi
|
||||||||||||||||
pelaksanaan kegiatan
|
|||||||||||||||||
dan penyerapan
|
|||||||||||||||||
Anggaran
|
|||||||||||||||||
- Adanya kebijakan
|
|||||||||||||||||
moratorium dari
|
|||||||||||||||||
pemerintah pusat
|
|||||||||||||||||
2.
|
Program
|
3.806.603.000
|
3.696.076.435
|
2.9
|
Adanya kebijakan
|
||||||||||||
Peningkatan
|
efisiensi dan
|
||||||||||||||||
Kapasitas
|
Pembintangan
|
||||||||||||||||
Sumberdaya
|
Mempengaruhi
|
||||||||||||||||
Aparatur Pemda
|
pelaksanaan kegiatan
|
||||||||||||||||
dan penyerapan
|
|||||||||||||||||
Anggaran
|
|||||||||||||||||
Jumlah
|
11.353.918.000
|
10.054.196.176
|
18.66
|
||||||||||||||
Total
Belanja Langsung
|
11.353.918.000
|
10.054.196.176
|
18.66
|
||||||||||||||
Sumber Data : DPPA BKD DIY Tahun 2016
|
|||||||||||||||||
Efetiifitas dilakukan terhadap kegiatan
yang ada potensi untuk tidak dilaksanakan dengan prioritas kegiatan yang
dianggarkan di triwulan 4 (empat). Kegiatan-kegiatan itu meliputi kegiatan
seleksi penerimaan CPNS, perjalanan dinas luar daerah serta kegiatan seleksi
jabatan tinggi pratama yang sedianya dilaksanakan di tahun 2016 namun tidak
bisa dilaksanakan karena adanya kebijakan efisiensi serta pertimbangan lainnya
dari Gubernur.
Penyelenggaraan kegiatan di Badan
Kepegawaian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta pada Tahun Anggaran 2016
merupakan tahun ke 5 (lima) dari Rencana strategis Badan Kepegawaian Daerah
Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2012-2017. Keberhasilan yang dicapai berkat
kerja sama dan partisipasi semua pihak dan diharapkan dapat dipertahankan serta
ditingkatkan. Sementara itu, untuk target-target yang belum tercapai perlu
diantisipasi dan didukung oleh berbagai pihak.
Kesimpulan dan
Saran
Hasil
laporan kinerja Badan Kepegawaian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2016
dapat disimpulkan sebagai berikut:
Dari analisis terhadap
sasaran, terdapat satu indikator kinerja utama yang dipilih sebagai tolak ukur.
Pada tahun 2016, indikator kinerja utama Badan Kepegawaian Daerah Daerah
Istimewa Yogyakarta telah dapat mencapai target sebesar 95,70% dari total
indikator yaitu sebesar 78,57%. Tidak tercapainya target disebabkan oleh
berbagai faktor kendala, baik dari dalam internal maupun eksternal Badan
Kepegawaian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, kendala yang paling besar dan
tidak dapat dihindarkan adalah adanya moratorium penerimaan pegawai dari
pemerintah pusat.
Langkah-langkah
yang perlu diambil untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dapat dirumuskan
saran-saran sebagai berikut:
1. Melakukan
koordinasi serta komunikasi yang lebih intensif dengan pihak-pihak terkait.
2. Memberikan
perhatian khusus atas program/kegiatan yang mendukung indikator kinerja sasaran
untuk bisa mencapai target sesuai dengan harapan.
3. Melaksanakan
pengembangan pegawai di bidang pendidikan serta kompetensi untuk menunjang
kegiatan.
4. Melakukan
alternatif menyelesaian kekurangan pegawai dengan seleksi penerimaan pegawai
non PNS.
Daftar Pustaka
Anggadini, Sri
Dewi. 2012. Pengaruh Value For Money Terhadap Kualitas Pelayanan Publik.
Jurnal
Riset Akuntansi. Bandung: Universitas Komputer Indonesia.
Lestiawan, HY
dan Jatmiko, B. 2015.Key Success Factor Good Government Governance Serta
Pengaruhnya
TerhadapKinerja Pemerintah. Yogyakarta
Mahsun, M. 2006.
Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Edisi Pertama. BPFE. Yogyakarta
Mahsun, M. 2011.
Akuntansi Sektor Publik. Edisi Ketiga. BPFE.Yogyakarta
Mardiasmo. 2009.
Akuntansi Sektor Publik. ANDI OFFSET.Yogyakarta.
Pratolo, S.
2003. Value For Money Audit Suatu Instrumen Alternatif untuk Menciptakan
Akuntabilitas Publik Pemerintah Daerah.
Jurnal Akuntansi dan Investasi. Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar